Kisah Uwais Al Qarni R.A
Sayidina Uwais Qarni ( Semoga
Allah ridho dan senang dengan dia ) adalah orang yang sangat saleh dan
mulia. Meskipun hidupnya tidak ada apa-apanya dari sudut pandang duniawi,
tetapi dia terkenal dan dihormati di antara semua umat Islam dan para Sufi
khususnya, karena kesalehan, praktek Zuhd (asketisme), serta cinta yang
mendalam dan kasih sayangnya untuk Rasulullah (saw) Kekasih Allah(Kedamaian dan
Keberkahan atas Nabi saw).
Dikatakan bahwa Uways
menghabiskan semua waktu hidupnya dalam kesendirian (suluk), puasa, dan setiap
malam berjaga dengan doa dan salat. Dia telah memeluk Islam ketika zaman
Nabi saw Kekasih-Nya masih hidup. Sehingga tentu saja ia memiliki
keinginan yang sangat kuat untuk melihat Nabi (saw), tetapi karena ibunya sudah
sangat tua dan dia membutuhkan perawatan secara konstan terus menerus dan
perhatiannya, maka dia tidak bisa mengunjungi Kekasih Allah Sayidina Muhammad
(saw).
Sebagai hadiah dari
pengabdiannya kepada ibunya, ia diperlakukan sebagai salah satu Sahabi (Sahabat
Nabi saw) oleh Nabi saw (Kedamaian dan Keberkahan atas Nabi
saw). Meskipun dia tidak bisa melihatnya secara fisik tetapi namanya
termasuk dalam daftar para Sahaba saw, hanya karena niat yang kuat untuk dapat
melihat Kekasih Allah dan Utusan-Nya (Kedamaian dan Keberkahan atas Nabi saw).
Suatu ketika para sahabat bertanya
kepada Nabi saw: " Apakah Sayidina Owais Qarni pernah mengunjungi engkau
wahai Nabi tercinta (Kedamaian dan Keberkahan atas Nabi saw), Nabi pun
menjawab, " Tidak, Dia tidak pernah melihat saya secara fisik, tetapi
secara rohani ia selalu bertemu saya ".Sufisme didasarkan pada hubungan
spiritual atau link antara Nabi saw dan Sayidina Owais Qarni.
Dalam tasawuf hubungan spiritual ini dikenal sebagai Uways Connection,
"Nisbat-e-Owaisiya". Ketika Sayidina Owais Qarni (semoga Allah
ridho dengan dia ) menerima kabar tentang Nabi Kekasih-Nya, bahwa ia telah
kehilangan gigi dalam pertempuran Uhud, maka Sayidina Owais Qarni mencabut
salah satu giginyakarena kecintaannya terhadap Nabi saw. Tetapi dia berpikir
apakah benar gigi ini yang tepat seperti gigi Rasulullah saw yang tercabut
dalam perang Uhud, dan karena ia mencintai Nabi saw lebih dari ia mencintai
dirinya sendiri, maka ia mencabut semua giginya untuk memastikan bahwa ia telah
kehilangan gigi yang sama dengan gigi Sang Kekasih Nabi Muhammad saw
(Kedamaian dan Keberkahan atas Nabi saw).
Selama hari-hari terakhirnya menjelang wafatnya Nabi saw, beliau saw meminta
Sayidina Umar ra dan Sayidina Ali (ra) untuk mengambil Jubahnya (Jubba Mubarak)
dan untuk memberikannya kepada Sayidina Uwais ra dan memintanya untuk berdoa
untuk pengampunan seluruh Ummat Nabi saw. Permintaan ini adalah untuk
menunjukkan kepada para sahabatnya, kedudukan yang sangat tinggi dari Maqom Sayidina
Uwais al-Qarni ra.
Sayidina Umar (ra) dan Sayidina Ali (ra) bertanya kepada orang-orang dari Qarn
Yaman tentang Uways dan dimana dia tinggal. Seorang pria datang ke depan
dan mengatakan kepada mereka bagaimana untuk menemukan tempat tinggal Uways
al-Qarni. Mereka berangkat ke Qarn Yaman. Ketika mereka tiba, mereka
bertanya kepada orang-orang di mana Uwais berada.
Seluruh penduduk desa sangat terkejut melihat dua sahabat Nabi (saw) yang
sangat terkemuka meminta untuk ditunjukkan seorang penggembala yang tidak
dikenal semua orang. Ketika Sayidina Umar dan Sayidina Ali (semoga Allah
ridho dengan mereka) bertemu dengan Uways ra, mereka melihat Sayidina Uwais ra
sedang salat dan berdoa. Saat ia selesai shalat, dia mengatakan," Ini
adalah pertama kalinya dalam hidupku ada orang yang pernah melihat aku
salat.
Dua sahabat Nabi saw meneruskan pesan Nabi saw kepadanya untuk memberikan jubah
Nabi saw dan meminta Owais untuk berdoa untuk pengampunan untukseluruh umat
Nabi Muhammad (saw). Dan Sayidina Uways pun mendoakan Sayidina Umar ra dan
Sayidina Ali ra serta seluruh umat Nabi saw.
Setelah beberapa saat ia berkata," Allah swt telah mengampuni dan
menghormati mereka karena banyaknya cinta para pengikut Nabi Muhammad saw
kepada Nabi saw, cinta itu banyaknya bagaikan rambut domba dari suku Rabia dan
Mazhar.
Mereka bertanya kepada Sayidina Uwais ra, "Jika engkau mencintai Nabi
Muhammad (saw) begitu besar, kenapa kau tidak mengunjunginya lebih sering
selama hidupnya?". Uways ra tidak menjawab, tapi bertanya kepada mereka,
apakah mereka ikut ambil bagian dalam perang Uhud? Dan jika mereka ikut
dalam perang Uhud, gigi Nabi saw yang manakah yang tercabut dalam perang itu?
Sayidina Umar (ra) sangat terkesan dengan jawaban orang yang sederhana ini dan
meminta Sayidina Uwais ra untuk berdoa baginya. Sayidina Uwais ra menjawab
, " Saya berdoa untuk pengampunan bagi semua orang di akhir setiap doaku.
Jika engkau menjaga imanmu kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad saw, maka kalian
akan menerima bagian dari doa saya di kuburmu. "
Syaikh FARID AL-DIN Attar menceritakan tentang Uways al Qarni ra :
"Selama hidupnya di dunia ini, dia (Uways al-Qarni) bersembunyi dari semua
orang, dalam rangka untuk mengabdikan dirinya untuk ibadah dan ketaatan "
( ' Attar 1976, p . 2 ) . ' Attar juga menceritakan bahwa Nabi saw,
(Kedamaian dan Keberkahan atas Nabi saw) telah menyatakan pada saat kematiannya
bahwa jubahnya harus diberikan kepada Uways ra, seorang pria yang belum pernah
bertemu dalam hidup ini dengannya.
Ketika ' Umar Radi Allahu anhu mencari Uways selama tinggal di Kufah, ia
meminta penduduk asli Qarn dan dijawab "Ada satu orang seperti itu, tapi
dia orang gila, orang yang tidak masuk akal karena kegilaannya, dan dia tidak
hidup di antara orang-orang lain sesukunya dia tidak berbaur dengan siapa saja
dan tidak makan atau minum apa pun yang orang lain minum dan makan. Dia tidak
tahu apa itu kesedihan atau sukacita. Ketika orang lain tertawa, dia menangis,
dan ketika mereka menangis dia tertawa " ( ibid. , p . 29 ).
Banyak pengikut dan sahabat Nabi saw berkata bahwa Nabi saw (Kedamaian dan
Keberkahan atas Nabi saw) menyatakan," Saya bisa mencium keindahan dan
keharuman seseorang dari negeri Yaman". Pernyataan ini adalah
referensi langsung atas kebesaran spiritual Sayidina Owais al-Qarni
ra.
Nabi saw juga mengatakan,"Saya merasa kemanisan, dan angin yang penuh
kedamaian (naseem-e-Rehmat ) dari Yaman". Mengenai hadits Nabi saw,
kepada siapa kedamaian dan keberkahan ini, beliau saw berkata,"Lebih
banyak orang akan masuk surga melalui perantaraan seorang laki-laki dari umatku
yang berasal dari suku Rabi'ah dan Mudar". Dan Imam Al- Hasan Basri
mengatakan, orang yang dimaksud Nabi saw : " Itu adalah Uwais
al-Qarni."
Sayidina Umar ra ( semoga Allah ridho dengan dia ) mengutip Nabi saw yang
mengatakan " Oh ! Umar. Dari Yaman seorang pria akan tiba, namanya Uwais
dan dia memiliki tanda-tanda Kusta di tubuhnya, ia sangat peduli kepada ibunya
yang sudah tua dan lumpuh. Jika ia mengambil sumpah atas nama Allah, maka
Allah akan memenuhi sumpahnya dan doanya. Jika kalian dapat meminta darinya doa
untuk ampunan bagimu sendiri, maka kalian harus melakukannya".
Hadrat Ibn - e - Sa'ad (ra) mengutip Nabi Sang Kekasih (Kedamaian
dan Keberkahan atas Nabi saw), mengatakan, "Dalam ummatku ( pengikut
) Saya, saya punya sahabat yang namanya Uwais al Qarni".
Dari Kata-kata Sayidina Uways al-Qarni ra
Uwais al-Qarni (ra) mengatakan, "Terus awasi hatimu" , " Alayka
bi - Ghalbik " .
Uwais al - Qarni mengatakan , " doa Tersembunyi ( al- Do'a fi Dhahr al-
ghayb ) lebih baik daripada mengunjungi majelis dan pertemuan," karena
kemunafikan ( riya ) mungkin masuk dalam dua hal terakhir.
"Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari mata yang senang tidur, dan perut
yang tidak merasa kenyang."
Doa dari Owais al- Qarni :
"Ya Allah, Engkau telah menciptakan saya ketika saya tidak layak
disebutkan. Dan Engkau telah menyediakan rezeki untuk saya ketika saya tidak
punya apa-apa. Dan aku menganiaya diriku dan berdosa, dan saya mengakui
kesalahan saya. Jika Anda memaafkan saya, maka kehendakMu tidak
mengurangi kedaulatan-Mu. Dan jika Engkau menghukum saya, hukuman itu sama
sekali tidak meningkatkan KewenanganMU. Engkau tidak dapat menemukan orang yang
layak untuk mendapatkan hukuman-Mu kecuali akulah satu-satunya orang yang layak
Kau hukum, tetapi aku tidak dapat menemukan yang dapat memaafkanku, kecuali
Engkau. Sesungguhnya, Engkau adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Beberapa tahun kemudian, Sayidina Uwais Al-Qarni (ra) berpulang ke rahmatullah.
Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang
berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk
dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata
sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai.
Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang
berebutan untuk mengusungnya. Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan
masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan.
Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah
dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak
dihiraukan orang. Tidak ada orang yang memperdulikan beliau yang miskin. Malah
ada yang menganggap Uwas al Qarni ra seorang yang gila.
Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur,
disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk
kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya
engkau wahai Uwais Al-Qarni ? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang
fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai
penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan
penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami
kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.
Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan Allah (swt) ke bumi, hanya
untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu. Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan
keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana.
Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni.
Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni
disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali
ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar
sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah
penghuni langit.
Demikianlah kisah Uwais Al-Qarni yang amat taat dan sangat kasih sayang kepada
ibunya. Seorang Wali Allah yang tidak terkenal di bumi, tetapi amat terkenal di
langit. Wallahua’lam.
Uwais Al Qarni Menggendong Ibunya Naik
Haji
Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit
lepra, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan
sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh.
Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya.
Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan. "Anakku, mungkin Ibu tak
lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan
haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh
melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta
dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki
kendaraan.
Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak
sapi, Kira-kira untuk apakah anak sapi itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik
sapi. Ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau
bolak balik menggendong anak sapi itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais
gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh. Tak
pernah ada hari yang terlewatkan tanpa ia menggendong lembu naik turun bukit.
Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan
Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa
lagi.
Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Sapi Uwais telah mencapai berat
100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat
mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong
anak sapi setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya. Uwais
menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah
besar cinta Uwais pada ibunya.
Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan
bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak
itu berdoa. Dan Uways al-Qarani berdoa,"Ya Allah, ampuni semua dosa
ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran.
Uwais menjawab, "Dengan terampunkannya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk
surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."
Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta.
Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari
penyakit lepranya. Hingga hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah
kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar
bin Khattab (ra) dan Ali bin Abi Thalib (ra), dua sahabat utama Rasulullah SAW
untuk mengenali Uwais. Beliau berdua sengaja mencari Uwais karena Rasullah SAW
berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya
sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman,
dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau
berjumpa dengan dia minta tolong dia untuk mendoakanmu, karena doanya diterima
Allah.
Wa min Allah at Tawfiq
"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak
kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan
Allah, membenci padamu yang banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula
memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim)