Kebudayaan Islam dan Budaya Akademik
A . Definisi
Kata Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhi yang berarti
intelek (pengertian). Kata buddhi berubah menjadi budaya yang berarti “yang
diketahui atau akal pikiran”. Kebudayaan dalam bahasa inggris
disebut culture. merupakan suatu istilah yang relatif baru karena
istilah culture sendiri berasal dari bahasa Latin colere yang berarti
pemeliharaan, pengolahan tanah pertanian. Pada arti kiasan kata itu juga
berarti "pembentukan dan pemurnian jiwa". Seorang antropolog lain, E.B. Tylor (1871) mendefinisikan
pengertian kebudayaan bahwa kebudayaan adalah kompleks yang mencakup
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain
kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia
sebagai anggota masyarakat.
Dalam
bahasa arab, kata yang dipakai untuk kebudayaan adalah al-Hadlarah, as
Tsaqafiyah/tsaaqafah yang artinya juga peradaban. Secara bahasa, peradaban
berasal dari kata arab yang berarti etika,sopan,santun,terdidik.
Menurut
Dr.K.Kupper kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan
pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berprilaku, baik secara individu
maupun kelompok.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah suatu pola hidup / tatanan yang
berkembang di masyarakat dari generasi ke generasi yang mengandung banyak unsur
diantaranya unsur seni, religi dan perilaku. Budaya adalah suatu
kegiatan yang dilakukan terus menerus yang kemudian menjadi kebiasaan yang
diwariskan secara turun temurun. Budaya juga bersifat secara meluas dan
biasanya dijadikan pedoman.
Islam sendiri berasal dari kata ‘salm’ (السَّÙ„ْÙ…) yang berarti damai/kedamaian. Dan ini merupakan salah satu makna dan ciri dari Islam, yaitu
bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada
perdamaian.Sehingga kebudayaan islam dapat diartikan sebagai suatu hasil olah
pikir manusia yang berkembang dari generasi ke generasi yang tidak bertentangan
dengan ajaran agama islam. Al Qur’an merupakan kebudayaan itu sebagai suatu
proses dan meletakkan kebudayaan sebagai eksistensi hidup manusia.Al Qur’an
merupakan pedoman bagi umat muslim. Allah
mengangkat Nabi Muhammad sebagai Rosul yaitu memberikan bimbingan kepada umat.
Manusia agar dalam mengembangkan kebudayaan tidak lepas dari nilai-nilai
ketuhanan.Sebagaimana sabdanya yang berarti, “Sesungguhnya aku diutus Allah
untuk menyempurnakan akhlak.”
Kebudayaan islam adalah
hasil olah, akal, budi, cipta, rasa, karsa, dan karya manusia berladaskan pada
nilai-nilai tauhid. Islam sangat menghargai akal untuk terseleksi oleh
nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal berkembang menjadi sebuah
peradaban.Agama berfungsi untuk mmbimbing manusia dalam mengembangkan akal
budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang beradab atau peradaban islam. Kebudayaan Islam yang pada akhirnya akan berkembang menjadi suatu
kebudayaan yang diyakini kebenarannya secara universal. Islam sebagai suatu
agama, secara sungguh-sungguh mendorong manusia untuk berusaha melalui pribadi
dan kelompoknya, agar dapat menciptakan suatu keadaan yang lebih baik, sehingga
menjadi suatu kekuatan di dunia (Picktchall,1993: 7).
Agama islam mendorong
umatnya berkebudayaan dalam semua aspek kehidupan termasuk dalam bidang ibadah.contohnya
dalam ibadah sholat,perintah itu bukan lah kebudayaan karena ia adalah wahyu
dari pada Allah swt .Dan kalau dilihat ajaran islam, kita di kehendaki
bersholat di tempat yang bersih. Jadi perlu tempat atau bangunan yang bersih
bukan saja bersih dari najis tetapi bersih dari pada segala pandangan yang bisa
mengganggu kekhusyukan kita pada saat kita bersholat. Apabila kita membangun
surau atau masjid dari dorongan wahyu”dirikan lah solat” itu maka lahir lah
kemajuan, lahir lah kebudayaan. Begitu juga dalam bergaul dalam masyarakat
dalam al-Quran ada perintah:
“Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya “[al-Mâidah/5:2]
Perintah ini bukan lah kebudayaan tapi apa bila kita hendak mengamalkan
tuntutan dan kehendak perintah maka terbentuk lah kebudayaan .
B . Nilai-nilai Kebudayaan Islam
Dalam ajaran islam sendiri meniru budaya satu kaum boleh-boleh saja
sepanjang tidak bertentangan nilai-nilai dasar islam, apalagi yang ditirunya
adalah panutan suci Nabi Muhammad saw, namun yang tidak boleh adalah menganggap
bahwa nilai-nilai budaya arabnya adalah ajaran islam. Tumbuh kembangnya Islam di Indonesia diolah
sedemikian rupa oleh para juru dakwah dengan melalui berbagai macam cara, baik
melalui bahasa maupun budaya seperti halnya dilakukan olehpara wali Allah di
Pulau Jawa. Para wali Allah tersebut menerapkan ajaran dengan melalui bahasa
dan budaya daerah setempat, sehingga masyarakat secara tidak sengaja dapat
memperoleh nilai-nilai Islam yang pada akhirnya dapat mengemas dan berubah
menjadi adat istiadat di dalam hidup dan kehidupan sehari-hari dan secara
langsung merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan bangsa
Indonesia, misalnya : setiap diadakan upacara-upacara adat banyak menggunakan
bahasa Arab (Al Qur’an), yang sudah secara langsung masuk ke dalam bahasa daerah dan
Indonesia, hal tersebut tidak disadari bahwa sebenarnya yang dilaksanakan
tidaklain adalah ajaran-ajaran Islam (Diskusi Kelompok Lokakarya MPK UGM,
2003:39).
Ajaran-ajaran Islam yang bersifat universal dilihat dalam hal melaksanakan
hari raya Idul Fitri 1 Syawal yang pada awalnya sebenarnya dirayakan secara
bersama dan serentak oleh seluruh umat Islam dimanapun mereka berada, namun
yang kemudian berkembang di Indonesia bahwa segenap lapisan masyarakat tanpa
pandang bulu dengan tidak memandang agama dan keyakinannya secara bersama-sama
mengadakan syawalan (halal bil halal) selama satu bulan penuh dalam
bulan syawal, hal inilah yang pada hakikatnya berasal dari nilai-nilai ajaran
Islam, yaitu mewujudkan ikatan tali persaudaraan dengan cara saling bersilaturahmi satu sama lain dan saling
meminta maaf, sehingga dapat terjalin suasana yang akrab dan kekeluargaan yang
kental.
Nilai-nilai Islam dalam kebudayaan Indonesia yang lain,juga dapat ditemukan
yaitu sesuai dengan perkembangan zaman terutama ciri dan corak bangunan masjid
di Indonesia yang juga mengalami tumbuh kembang, baik terdiri dari
masjid-masjid tua maupun yang baru dibangun.
Islam pertama kali masuk ke Indonesia mempengaruhi
kebudayaan daerah, yang masih dapat kita lihat dalam kehidupan masyarakat
daerah. Sementara itu dalam pengembangan budaya nasional, peran Islam dalam
terbentuknya wawasan persatuan dan kesatuan bangsa telah dibuktikan dalam
sejarah. Islam dapat menjadi penghubung bagi kebudayaan daerah yang sebagian
besar masyarakatnya adalah muslim. Jadi islam masuk ke Indonesia lengkap dengan
budayaannya.
Nilai-nilai Islam kedalam tatanan kehidupan bangsa
Indonesia ternyata tidak sekedar masuk pada aspek budaya semata tetapi sudah
masuk ke wilayah hukum. Sebagai contoh dalam hukum keluarga (akhwalu syahsiyah) masalah waris,
masalah penikahan, dan lain-lain. Mereka tidak sadar nilai-nilai islam masuk
wilayah hukum yang berlaku di Indonesia.
C. Prinsip Kebudayaan
dalam Islam
Kebudayaan dalam islam memiliki 4 prinsip yaitu :
- Menghormati
akal,kebudayaan islam menempatkan akal pada posisi yang terhormat.Prinsip
ini diambil dari surat Ali imron ayat 190.
- Motivasi
untuk menuntut dan mengembangkan ilmu prinsip yang diambil dari surat
Al-Mujadalah ayat 11
- Menghindari
taklid buta artinya kebudayaan islam tidak menerima sesuatu tanpa diteliti
dahulu.Prinsip diambil dari surat al-isra’ ayat 36
- Tidak
membuat kerusakan.Prinsip ini diambil dari surat al-Qashas ayat 77
D.
Ciri-ciri Kebudayaan Islam
Ciri-ciri
kebudayaan islam antara lain bernafaskan tauhid,karena tauhidlah yang menjadi
prinsip pokok ajaran islam dan hasil buah pemikiran dan pengolahannya
dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan membahagiakan umat.Kebudayaan
islam merupakan perpaduan antara moral yang merupakan pokok ajaran islam dengan
dorongan pemakaian akal.
E. Pusat Peradaban
Masjid sebagai pusat peradaban islam / kebudayaan islam mempunyai fungsi utama yaitu tempat shalat. Selama sekitar 700 tahun sejak Nabi
mendirikan masjid pertama, fungsi masjid masih kokoh dan original sebagai pusat
peribadatan dan peradaban. Sekolah-sekolah dan universitas-universitas
bermunculan justru dari masjid. Dalam syariat islam masjid memiliki dua fungsi
utama yaitu : pertama, sebagai pusat ibadah ritual, dan kedua, sebagai pusat
ibadah sosial. Dari kedua fungsi tersebut titik sentralnya bahwa fungsi utama
masjid adalah sebagai pusat pembinaan umat.
2.1 BUDAYA AKADEMIK
A . Definisi
Kata
akademik berasal dari bahasa Yunani yakni academos yang berarti sebuah taman
umum (plasa) di sebelah barat laut kota Athena. Nama Academos adalah nama
seorang pahlawan yang terbunuh pada saat perang legendaris Troya. Pada plasa
inilah filosof Socrates berpidato dan membuka arena perdebatan tentang berbagai
hal.Kata acadomos berubah menjadi akademik, yaitu semacam tempat perguruan.
Para pengikut perguruan tersebut disebut academist, sedangkan perguruan semacam
itu disebut academia (Fajar, 2002).
Akademik adalah istilah
yang berkaitan dengan bidang pengetahuan ,wawasan, mendidik untuk bisa
berkarya.Seperti lembaga pendidikan.
Jadi budaya akademik
adalah suatu kebiasaan / kegiatan akademik yang dapat dipahami, dan diamalkan
oleh warga akademik di lembaga pendidikan yang mempunyai peranan sangat
penting.
Budaya akademik bersifat
universal yaitu melingkupi seluruh warga masyarakat akademisi untuk
berpatisipasi dalam aktivitas akademik. Jadi Budaya akademik islam adalah
budaya yang diterapkan di sekolah dan perguruan tinggi yang mengandung nilai
dan ajaran islami.
B . Ciri-ciri dan Perkembangan
Ciri-Ciri dari Perkembangan Budaya Akademik” yang meliputi berkembangnya :
a)
penghargaan terhadap pendapat orang lain
secara obyektif
b)
pemikiran rasional dan kritis-analitis
c)
kebiasaan membaca
d) penambahan ilmu pengatahuan dan
wawasan
e)
kebiasaan meneliti dan mengabdi kepada
masyarakat
f)
penulisan artikel, makalah, buku
g)
diskusi ilmiah
h)
proses
belajar-mengajar, dan
i)
manajemen perguruan tinggi yang baik
C. Tradisi
Tradisi akademik yang
merupakan ciri khas kehidupan masyarakat akademik dengan menjalankan proses
belajar-mengajar antara dosen dan mahasiswa, menyelenggarakan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat, serta mengembangkan cara-cara berpikir
kritis-analitis, rasional dan inovatif di lingkungan akademik.
D . Kebebasan Akademik
Kebebasan Akademik mengiringi tradisi masyarakat
akademik, tetapi kehidupan dan kebijakan politik acapkali mempengaruhi dinamika
dan perkembangannya. Kebebasan akademik meliputi kebebasan menulis, meneliti,
menghasilkan karya keilmuan, menyampaikan pendapat, pikiran, gagasan sesuai
dengan bidang ilmu yang ditekuni, dalam kerangka akademis.
Selain itu, kebebasan akademik kadangkala juga
berkaitan dengan sikap-sikap dalam kehidupan beragama yang pada era dan
pandangan keagamaan tertentu menimbulkan hambatan dalam perkembangan kebebasan
akademik, khususnya kebebasan berpendapat.
E . Membangun Budaya Akademik
Budaya akademik bersifat
universal yaitu melingkupi seluruh warga masyarakat akademisi untuk
berpatisipasi dalam aktivitas akademik. Membangun budaya akademik bukan perkara
yang mudah. Diperlukan upaya sosialisasi terhadap kegiatan akademik, sehingga
terjadi kebiasaan di kalangan akademisi untuk melakukan norma-norma kegiatan
akademik tersebut.Jadi Budaya akademik islam adalah budaya yang bersifat
universal yang mengandung islami.
Jika sosialisasi
tersebut dilakukan secara terus-menerus, maka ia akan menjadi sebuah tradisi
dan budaya bagi individu-individu dalam masyarakat kampus. Norma-norma akademik
merupakan hasil dari proses belajar dan latihan dan bukan merupakan bawaan
lahir. Jadi Budaya akademik islam adalah budaya yang bersifat universal
yang mengandung nilai islami.
Membangun budaya akademik/ SDM Mahasiswa yaitu :
a. Menitik beratkan
pada yaitu Rencana yang tepat, matang dalam setiap aktifitas proses belajar
mengajar dan dilaksanakan secara optimal, maksimal dan berkesinambungan
dan ada upaya komperatif, sinergi dan sinkronisasi yang diinginkan dan tujuan
serta ada evaluasi dan gambaran yang logis, ilmiah sehingga dijadikan tolak
ukur keberhasilan dan kegagalan.
b. Adanya Interaksi kegiatan
kurikuler yang terstruktur tepat, baik pada beban kurikulum dan jumlah serta
bobot SKS mata kuliah.
c. Model manajemen yang baik dan terstruktur yang mampu mensinkronisasikan
antara tujuan pribadi (mahasiswa) dengan visi, misi dan tujuan Perguruan
Tinggi, pangsa pasar.
d. Tersedianya sarana, prasarana dan sumber daya (dosen, karyawan) yang
memadai.
Belajar
tidaklah hanya sebatas mengejar gelar akademis atau nilai indeks prestasi (IP ) yang tinggi dan mendapat penghargaan
cumlaude, lebih dari itu mahasiswa harus bergerak bersama rakyat dan pemerintah
untuk membangun bangsa, atau paling tidak dalam lingkup yang paling mikro, ada
suatu kemauan untuk mengembangkan civitas/ perguruan tinggi dimana ia
kuliah. Misalnya dengan ikut serta/ aktif di Organisasi Mahasiswa, baik
itu Organisasi intra kampus (MPM,BEM dan UKM ) ataupun Organisasi Ekstra
kampus, serta aktif dalam kegiatan-kegiatan lain yang mengarah pada pembangunan
bangsa.
Membangun Budaya akademik
dapat di lakukan dengan cara kampus mengadakan program
bersih-bersih lingkungan kampus. Karena kebersihan adalah sebagian dari iman .
lingkungan kampus yang bersih membuat
kegiatan belejar-mengajar di kampus menjadi nyaman.Dengan cara kampus
mengadakan program shalat berjamaah.Shalat merupakan perintah yang utama dan
kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang muslim. Shalat yang lebih baik dilakukan secara bejamaah itu dikarenakan kita dapat
saling bersilahturahmi dapat lebih dekat dengan sesamanya dan dapat
meningkatkan kebersaman.